Inilah kehidupan bukan di ibu
kota, tetapi tetangganya ibu kota. Yap, Bandung adalah kota kreatif. Itu sih
kata orang yang sudah lama tinggal disini. Kenapa harus Bandung tempat
persinggahan? Uops… bukan singgahan, melainkan menuntun ilmu disini.
Sayangnya ilmu gue pas-passan
sekali. Mau masuk ke universitas negri aja gue enggak mampu. Apalagi masuk
kedalam sebuah institut ternama.
Hahaha…
Lucu memang kalo diingat masa
SMA itu. Banyak rencana yang dilakukan setelah lulus. Eh, malah perubahan
rencana itu harus dilakukan diwaktu yang tidak diinginkan.
…
Kenalin. Nama gue Budi. Anak rantauan asal Medan. Mungkin kalian akan bertanya-tanya seperti lagunya Bimbo “Ada anak bertanya pada bapaknya… bla… bla…” Sorry, gue lupa lirik selanjutnya jadi gue tulis aja ‘bla’.
Gue itu disini udah ngetes SPMB
tiga kali dan tiga-tiganya tidak membuat gue menjadi terkenal karena namanya
yang udah tidak asing lagi di telingga kebanyakan orang tua yang ada di kampung
gue sana.
Eits, kampung? Gue enggak punya
kampung karena gue asli orang Semarang. Mengapa gue menjadi curhat. Gue kan mau
bercerita disini.
Gue adalah salah satu dari
beberapa mahasiswa yang masih bertahan di kampus ini. Gue telat lulus kuliah
bukan karena banyak kerjaan atau doyan main disini. Lo salah men.
Gue kuliah buat senang-senang.
Senang mencari ilmunya. Karena kelemahan gue sangat terlihat jelas. Yaa.. jelas
malasnya. Jadi, ya harus menanggung resikonya. Pahamin itu. Itunya pake
gayanya bapak Mario Teguh ya.
…
Dan inilah kisah gue bersama
dirinya yang belum terbilang menakjubkan.
Beberapa hari ini gue selalu
menyempatkan diri melewati suatu ruangan. Ruangannya tidak khusus. Malahan
mahasiswa lainnya juga bisa melewatinya dengan cuma-cuma. Ada alasannya dong
kenapa gue sering melewati ruangan misterius tersebut. Yap, ruangan tersebut
ternyata khusus untuk mahasiswa yang hobi taekwondo.
Ada apakah disana? Timbullah
sebuah pernyataan. Kenapa harus timbul suatu pertanyaan. Kan gue yang cerita.
Gue yang tau pastinya.
Yap, gue melihat sosok wanita
yang membuat gue harus memuter-balikan kepala semaksimal mungkin hanya untuk
melihat sosok makhluk tuhan paling sexy versi Budi. Sedikit lebay
bukan. Harus. Namanya juga sedang dilanda penasaran meng-gebu-gebu dengan sosok
wanita yang menggunakan sabuk merah di pinggangnya.
Beginilah penampakan wanita
tersebut yang dapat ditangkap kedua mata gue. Tinggi, mungkin aja lebih tinggi
dari gue. Itulah wanita. Ningginya bisa menipu kaum adam dan sekitarnya.
Kulitnya bisa dibilang putih kalo dibandingkan dengan cat dinding kampus gue. Beugh,
putihan cat dinding kampuslah.
Masa dia putihnya ampe
segitunya. Takut juga kalau mau dekatin. Alisnya tebal. Matanya masih biasa aja
sih. Pipinya terlihat bulat, tapi tidak seperti lagu lama ya.
“Apaan Roe?”
Itulah, “Bakso bulat seperti
bola pimpong... la..la..la..la” lupa gue lanjutannya. Eh, Bil. Kenapa lo
ngomong waktu gue cerita. Lo buat orang menjadi bingung aja nih. Ah, kacau lo
Bil.
“Ada yang salah memangnya?”
"Banyaklah."
“Lah, bukannya lo lagi storytelling
sekarang. Ya kalo ada sekilas info yang lewat wajar-wajar aja.”
"Oke. Gue mau lanjutin lagi ini
ceritanya. Lo diam dulu disana."
“Iyee.”
Sebenarnya kata ini gue paling
malas untuk mengatakannya. Kata ini bisa membuat wanita menjadi malu-malu mau
atau bisa juga menjadi sedikit meningkatkan emosinya.
…
Akhirnya momen tersebut datang
juga.
Sosok wanita berambut setengah
panjang sedang melakukan gerakan entah apa itu namanya dan wanita itu
melakukannya secara berulang-ulang. Akhirnya gue memutuskan untuk duduk dan
melihatnya.
Beberapa jam kemudian.
Latihan selesai wanita ini
bergegas pulang. Sayangnya di hari pertama melihat wanita tersebut gue enggak
mampu berkenalan.
Haripun berganti.
Sudah seminggu gue melihat
wanita ini, tapi tak kunjung berkenalan. Gue terus berfikir gimana caranya bisa
berkenalan dengan wanita terebut. Sudah ada beberapa cara yang dipikirkan. Dari
cara ekstrim sampai cara tak percaya dengan kemampuan.
Cara ekstrim: gue duduk tepat
disamping tasnya. Ketika wanita tersebut selesai latihan gue dengan sigap
mengambil handuk kecil yang kemudian gue kasih kepada wanita tersebut.
"Ini handuknya. Hai. Nama
gue Budi." Lo harus tau apa reakasi wanita tersebut?
Wanita ini melotot sejadinya
lalu tangan gue dipegang kemudian ia melakukan suatu gerakan bisa dibilang
teknik mengunci. Pasti ia sudah banyak berlatih selama ini bagaimana menghapi
pria kurang ajar sama dia dan gue adalah korban pertama dari ilmu bela dirinya
itu.
Gagal berkenalan dan gue harus
berujung ke tempat pertolongan pertama pada kecelakaan.
Kali ini gue menggunakan cara
kedua. Cara kedua yang gue gunakan adalah cara ‘apalah’ namanya. Beginilah reka
ulang kejadiannya. Gue langsung berkenalan setelah wanita tersebut akan mulai
latihan.
"Hai, kamu mau ngapain nih
pake baju beginian?" tanya gue dengan pertanyaan super basi.
"Mau ngaji. YA LATIHAN
TAEKWONDOLAH. Minggir lo." Jawabnya.
Budipun menjadi anak malang di
ruangan tersebut. Pantesan gue lama banget lulusnya. Gue lebih mementingkan
nafsu daripada menggunakan strategi apa dan bagaimana untuk bisa menahklukkan
wanita ini.
Gue enggak akan kehabisan ide
untuk bisa berkenal dengannya.
"Sebenarnya kan gampang
aja Roe kalo cuma pengen tau namanya doang. Tinggal si Budi tanya sama orang
yang disampingnya aja." Ini Suara Nabil.
Bener sih. Cuma dia pengen biar
wanita ini bisa selalu ingat dengannya dikesan pertamanya.
Tak terduga adegan inipun
terjadi. Budi yang notabennya selalu membawa rantang tak sengaja melihat wanita
itu sedang berjalan sendiri menuju ke tempat latihan taekwondo. Langsung saja
gue memberanikan diri menghampirinya.
"Hai, ini kartu nama saya
sekaligus jasa pelayanan rantang merantang. Saat ini rantang kami sedang ada
promosinya lho."
Wanita ini terus berjalan tanpa
mempedulikan gue. Gue enggak menyerah begitu aja walau dicuekin. Mau enggak mau
gue harus mengikuti pergerakannya juga.
"Mbak, ini diterima dong
kartu nama saya." Masih menggunakan bahasa antara penjual dan pembeli.
Akhirnya wanita itu mengambil
kartu nama yang gue tawarkan sebelumnya.
"Mbak, saya boleh tau
namanya enggak?"
Wanita ini berhenti dari jalan
cepatnya dan gue sedikit melewatinya akibat berhenti dadakan dengan perkataan
gue tadi.
"Buat apaan lo nanya nama
gue?" Tanyanya dengan gaya khasnya yang cool.
"Buat apaan ya? Oh, iya
buat saya data sebagai calon rantangan mbak." Gue mulai melakukan aksi
akting sambil menunjuk rantang.
"Eh, lo yang suka ikutin
gue itu ya. Oh, jadi lo pengantar rantang."
"Iya mbak."
"Mau gue kunci lagi tangan
lo kayak beberapa hari yang lalu?"
"Ya jangan toh mbak. Kan
saya sekarang nanyanya baik-baik. Jadi gimana, saya boleh kan kenalan sama
mbak?"
Budi menaruh rantangnya dibawah
dan ia menjulurkan tangannya untuk mengajaknya bersalaman. Sedikit lama sih,
dan akhirnya wanita inipun membalas menjulurkan tangannya untuk bersalaman
dengan gue.
"Gue Tantri."
Jawabnya dengan singkat sambil melepaskan salamannya.
"Saya Budi." Sambil
mengeluarkan senyum andalannya. Sayang, senyum gue tidak dibalas Tantri.
"Gue udah tau nama lo
Budi. Barusan kan lo kasih kartu nama ke gue."
"Oh, iya." Gue mulai
kebingungan karena Tantri jawabnya datar banget.
Sangking senangnya
akhirnya gue sampai lupa diri.
"Tan, gue boleh minta pin
BB-nya enggak?" Gue mulai merubah cara bicara ke Tantri menggunakan
kata ’gue’ yang sebelumnya memakai ‘saya’. Biar ngerasa dekat aja.
"Apa? Sini lo."
"Kan gue minta pin.
Kok malah disuruh mendekat." Gue tak berpikir panjang karena masih dalam
perasaan senang. Kalo panjang pikirannya bukan Budi namanya, tapi Seteip [Ini
nama orang lho]. Tantri mulai mendekati wajah gue. Gue hanya bisa pasrah
menutup kedua mata.
Kemudian ia langsung membisikan
beberapa kata ke telingga gue.
"Baru kenal gue lo
Bud?" membisik dengan volume suara tujuh persen.
"Hah?"
Tangan kanan Tantri mulai
mengayunkan pukulan kecil namun cepat gerakannya ke perut gue. Sebut saja jab kecil.
"ADDOWW." Gue langsung
megang perut dan dengan cepat mundur beberapa langkah di depannya.
Tidak lama kemudian Tantri
meninggalkan gue begitu saja tanpa wajah berdosa sama sekali.
"Awas lo Tan. Tunggu aja
pembalasan gue." Ini juga gue ngomongnya dengan nada suara rendah.
"Apa lo bilang
barusan?" Tantri langsung berbalik arah.
"Hari pembalasan."
Jawab gue dengan posisi badan dimonyongin.
"Gue terima
pembalasannya." Tantri coba balik nantangin gue.
"Pembalasan di akhirat
maksud gue." Guepun seenak bodongnya ngejawabnya.
"Hah?" Tantri mencoba
menahan senyumnya dan akhirnya senyumnya menjadi tawa.
"Loh kok lo ketawa sih.
Kan memang bener. Mana mungkin gue bisa sanggup melawan lo yang doyannya main
taekwondo." Ini sih gue sedang mencoba menjadi manusia lemah
selemahnya manusia puasa 30 hari menahan godaan dari makan dan minum serta
godaan hawa nafsu.
"Nyambungnya dimana Roe?
Puasa dibawa-bawa segala."
"Sambungin aja Bil."
"Yaudah, gue tunggunya di
akhirat aja." Lanjut gue dengan sigap.
"Yaudah gue minta
maaf." Ternyata Tantri takut dengan pelajaran bernuansa agama.
"Heh, Lo kan kuat. kenapa
minta maaf ke gue sekarang?" Nada bicara sedikit berat dan disana gue
merasakan kemenangan.
"Gue paling takut kalo
bicara berbau-bau agama." Dan keluarlah sisi wanitanya disini.
"Lucu juga lo ternyata.
Iya~ udah gue maafin." Hati gue mulai berselebrasi didalamnya. Ibarat
mencetak gol penetuan yang mengantar Indonesia menjuari piala Asia dua ribu
berapalah.
"Gue cabut duluan
ya." Suara Tantri kembali datar.
"Bareng aja kalo
gitu." Ini suara gue mupeng.
"Lo mau latihan taekwondo
juga?"
"Enggak."
"Terus lo ngapain
disana?"
"Jadi pemandu sorak doang
gue disana." Otak miring gue mulai keluar.
"Haha. Terserah lo
ajalah." Sambil melanjutkan langkah cepatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar