Rabu, 05 Juni 2013

Mahasiswa Pengantar Rantang




Inilah kehidupan bukan di ibu kota, tetapi tetangganya ibu kota. Yap, Bandung adalah kota kreatif. Itu sih kata orang yang sudah lama tinggal disini. Kenapa harus Bandung tempat persinggahan? Uops… bukan singgahan, melainkan menuntun ilmu disini.

Sayangnya ilmu gue pas-passan sekali. Mau masuk ke universitas negri aja gue enggak mampu. Apalagi masuk kedalam sebuah institut ternama. 

Hahaha…

Lucu memang kalo diingat masa SMA itu. Banyak rencana yang dilakukan setelah lulus. Eh, malah perubahan rencana itu harus dilakukan diwaktu yang tidak diinginkan. 


Kenalin. Nama gue Budi. Anak rantauan asal Medan. Mungkin kalian akan bertanya-tanya seperti lagunya Bimbo “Ada anak bertanya pada bapaknya… bla… bla…” Sorry, gue lupa lirik selanjutnya jadi gue tulis aja ‘bla’. 

Gue itu disini udah ngetes SPMB tiga kali dan tiga-tiganya tidak membuat gue menjadi terkenal karena namanya yang udah tidak asing lagi di telingga kebanyakan orang tua yang ada di kampung gue sana.

Eits, kampung? Gue enggak punya kampung karena gue asli orang Semarang. Mengapa gue menjadi curhat. Gue kan mau bercerita disini.

Gue adalah salah satu dari beberapa mahasiswa yang masih bertahan di kampus ini. Gue telat lulus kuliah bukan karena banyak kerjaan atau doyan main disini. Lo salah men.

Gue kuliah buat senang-senang. Senang mencari ilmunya. Karena kelemahan gue sangat terlihat jelas. Yaa.. jelas malasnya. Jadi, ya harus menanggung resikonya. Pahamin itu. Itunya pake gayanya bapak Mario Teguh ya.


Dan inilah kisah gue bersama dirinya yang belum terbilang menakjubkan.
Beberapa hari ini gue selalu menyempatkan diri melewati suatu ruangan. Ruangannya tidak khusus. Malahan mahasiswa lainnya juga bisa melewatinya dengan cuma-cuma. Ada alasannya dong kenapa gue sering melewati ruangan misterius tersebut. Yap, ruangan tersebut ternyata khusus untuk mahasiswa yang hobi taekwondo.

Ada apakah disana? Timbullah sebuah pernyataan. Kenapa harus timbul suatu pertanyaan. Kan gue yang cerita. Gue yang tau pastinya.

Yap, gue melihat sosok wanita yang membuat gue harus memuter-balikan kepala semaksimal mungkin hanya untuk melihat sosok makhluk tuhan paling sexy versi Budi. Sedikit lebay bukan. Harus. Namanya juga sedang dilanda penasaran meng-gebu-gebu dengan sosok wanita yang menggunakan sabuk merah di pinggangnya.

Beginilah penampakan wanita tersebut yang dapat ditangkap kedua mata gue. Tinggi, mungkin aja lebih tinggi dari gue. Itulah wanita. Ningginya bisa menipu kaum adam dan sekitarnya. Kulitnya bisa dibilang putih kalo dibandingkan dengan cat dinding kampus gue. Beugh, putihan cat dinding kampuslah.

Masa dia putihnya ampe segitunya. Takut juga kalau mau dekatin. Alisnya tebal. Matanya masih biasa aja sih. Pipinya terlihat bulat, tapi tidak seperti lagu lama ya.

“Apaan Roe?”

Itulah, “Bakso bulat seperti bola pimpong... la..la..la..la” lupa gue lanjutannya. Eh, Bil. Kenapa lo ngomong waktu gue cerita. Lo buat orang menjadi bingung aja nih. Ah, kacau lo Bil.

“Ada yang salah memangnya?”
"Banyaklah."
“Lah, bukannya lo lagi storytelling sekarang. Ya kalo ada sekilas info yang lewat wajar-wajar aja.”
"Oke. Gue mau lanjutin lagi ini ceritanya. Lo diam dulu disana."
“Iyee.”

Sebenarnya kata ini gue paling malas untuk mengatakannya. Kata ini bisa membuat wanita menjadi malu-malu mau atau bisa juga menjadi sedikit meningkatkan emosinya.


Akhirnya momen tersebut datang juga.

Sosok wanita berambut setengah panjang sedang melakukan gerakan entah apa itu namanya dan wanita itu melakukannya secara berulang-ulang. Akhirnya gue memutuskan untuk duduk dan melihatnya.
Beberapa jam kemudian.

Latihan selesai wanita ini bergegas pulang. Sayangnya di hari pertama melihat wanita tersebut gue enggak mampu berkenalan.
Haripun berganti.

Sudah seminggu gue melihat wanita ini, tapi tak kunjung berkenalan. Gue terus berfikir gimana caranya bisa berkenalan dengan wanita terebut. Sudah ada beberapa cara yang dipikirkan. Dari cara ekstrim sampai cara tak percaya dengan kemampuan.

Cara ekstrim: gue duduk tepat disamping tasnya. Ketika wanita tersebut selesai latihan gue dengan sigap mengambil handuk kecil yang kemudian gue kasih kepada wanita tersebut.

"Ini handuknya. Hai. Nama gue Budi." Lo harus tau apa reakasi wanita tersebut?

Wanita ini melotot sejadinya lalu tangan gue dipegang kemudian ia melakukan suatu gerakan bisa dibilang teknik mengunci. Pasti ia sudah banyak berlatih selama ini bagaimana menghapi pria kurang ajar sama dia dan gue adalah korban pertama dari ilmu bela dirinya itu.
Gagal berkenalan dan gue harus berujung ke tempat pertolongan pertama pada kecelakaan.

Kali ini gue menggunakan cara kedua. Cara kedua yang gue gunakan adalah cara ‘apalah’ namanya. Beginilah reka ulang kejadiannya. Gue langsung berkenalan setelah wanita tersebut akan mulai latihan.

"Hai, kamu mau ngapain nih pake baju beginian?" tanya gue dengan pertanyaan super basi.
"Mau ngaji. YA LATIHAN TAEKWONDOLAH. Minggir lo." Jawabnya.

Budipun menjadi anak malang di ruangan tersebut. Pantesan gue lama banget lulusnya. Gue lebih mementingkan nafsu daripada menggunakan strategi apa dan bagaimana untuk bisa menahklukkan wanita ini.

Gue enggak akan kehabisan ide untuk bisa berkenal dengannya.

"Sebenarnya kan gampang aja Roe kalo cuma pengen tau namanya doang. Tinggal si Budi tanya sama orang yang disampingnya aja." Ini Suara Nabil.
Bener sih. Cuma dia pengen biar wanita ini bisa selalu ingat dengannya dikesan pertamanya.

Tak terduga adegan inipun terjadi. Budi yang notabennya selalu membawa rantang tak sengaja melihat wanita itu sedang berjalan sendiri menuju ke tempat latihan taekwondo. Langsung saja gue memberanikan diri menghampirinya.

"Hai, ini kartu nama saya sekaligus jasa pelayanan rantang merantang. Saat ini rantang kami sedang ada promosinya lho."

Wanita ini terus berjalan tanpa mempedulikan gue. Gue enggak menyerah begitu aja walau dicuekin. Mau enggak mau gue harus mengikuti pergerakannya juga.

"Mbak, ini diterima dong kartu nama saya." Masih menggunakan bahasa antara penjual dan pembeli.

Akhirnya wanita itu mengambil kartu nama yang gue tawarkan sebelumnya.

"Mbak, saya boleh tau namanya enggak?"

Wanita ini berhenti dari jalan cepatnya dan gue sedikit melewatinya akibat berhenti dadakan dengan perkataan gue tadi.

"Buat apaan lo nanya nama gue?" Tanyanya dengan gaya khasnya yang cool.
"Buat apaan ya? Oh, iya buat saya data sebagai calon rantangan mbak." Gue mulai melakukan aksi akting sambil menunjuk rantang.
"Eh, lo yang suka ikutin gue itu ya. Oh, jadi lo pengantar rantang."
"Iya mbak."
"Mau gue kunci lagi tangan lo kayak beberapa hari yang lalu?"
"Ya jangan toh mbak. Kan saya sekarang nanyanya baik-baik. Jadi gimana, saya boleh kan kenalan sama mbak?"
 
Budi menaruh rantangnya dibawah dan ia menjulurkan tangannya untuk mengajaknya bersalaman. Sedikit lama sih, dan akhirnya wanita inipun membalas menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan gue.

"Gue Tantri." Jawabnya dengan singkat sambil melepaskan salamannya. 
"Saya Budi." Sambil mengeluarkan senyum andalannya. Sayang, senyum gue tidak dibalas Tantri.
"Gue udah tau nama lo Budi. Barusan kan lo kasih kartu nama ke gue." 
"Oh, iya." Gue mulai kebingungan karena Tantri jawabnya datar banget.

Sangking senangnya akhirnya  gue sampai lupa diri.

"Tan, gue boleh minta pin BB-nya enggak?" Gue mulai merubah cara bicara ke Tantri menggunakan kata ’gue’ yang sebelumnya memakai ‘saya’. Biar ngerasa dekat aja.
"Apa? Sini lo."
"Kan gue minta pin. Kok malah disuruh mendekat." Gue tak berpikir panjang karena masih dalam perasaan senang. Kalo panjang pikirannya bukan Budi namanya, tapi Seteip [Ini nama orang lho]. Tantri mulai mendekati wajah gue. Gue hanya bisa pasrah menutup kedua mata.

Kemudian ia langsung membisikan beberapa kata ke telingga gue.

"Baru kenal gue lo Bud?" membisik dengan volume suara tujuh persen.
"Hah?"

Tangan kanan Tantri mulai mengayunkan pukulan kecil namun cepat gerakannya ke perut gue. Sebut saja jab kecil.

"ADDOWW." Gue langsung megang perut dan dengan cepat mundur beberapa langkah di depannya.

Tidak lama kemudian Tantri meninggalkan gue begitu saja tanpa wajah berdosa sama sekali.

"Awas lo Tan. Tunggu aja pembalasan gue." Ini juga gue ngomongnya dengan nada suara rendah.
"Apa lo bilang barusan?" Tantri langsung berbalik arah.
"Hari pembalasan." Jawab gue dengan posisi badan dimonyongin.
"Gue terima pembalasannya." Tantri coba balik nantangin gue.
"Pembalasan di akhirat maksud gue." Guepun seenak bodongnya ngejawabnya.
"Hah?" Tantri mencoba menahan senyumnya dan akhirnya senyumnya menjadi tawa.
"Loh kok lo ketawa sih. Kan memang bener. Mana mungkin gue bisa sanggup melawan lo yang doyannya main taekwondo." Ini sih gue sedang mencoba  menjadi manusia lemah selemahnya manusia puasa 30 hari menahan godaan dari makan dan minum serta godaan hawa nafsu.

"Nyambungnya dimana Roe? Puasa dibawa-bawa segala."
"Sambungin aja Bil."
"Yaudah, gue tunggunya di akhirat aja." Lanjut gue dengan sigap. 
"Yaudah gue minta maaf." Ternyata Tantri takut dengan pelajaran bernuansa agama.
"Heh, Lo kan kuat. kenapa minta maaf ke gue sekarang?" Nada bicara sedikit berat dan disana gue merasakan kemenangan.

"Gue paling takut kalo bicara berbau-bau agama." Dan keluarlah sisi wanitanya disini. 
"Lucu juga lo ternyata. Iya~ udah gue maafin." Hati gue mulai berselebrasi didalamnya. Ibarat mencetak gol penetuan yang mengantar Indonesia menjuari piala Asia dua ribu berapalah.

"Gue cabut duluan ya." Suara Tantri kembali datar.
"Bareng aja kalo gitu." Ini suara gue mupeng. 
"Lo mau latihan taekwondo juga?"
"Enggak." 
"Terus lo ngapain disana?"
"Jadi pemandu sorak doang gue disana." Otak miring gue mulai keluar. 
"Haha. Terserah lo ajalah." Sambil melanjutkan langkah cepatnya.

Tidak ada komentar: