Tampilkan postingan dengan label Pembohong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembohong. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Januari 2014

Pindah Nulis



Blog ini tidak akan diisi dengan tulisan baru lagi. Ia hanya membawa kembali beberapa tulisan di tempat barunya. Terima kasih sudah pernah main ketempat ini. Gue harap di tempat barunya ia akan tetap terus menulis. Daah.
 Ada satu hal yang membuat gue harus pindah. Gue selalu berurusan dengan munculnya kata dismiss. Selama ini gue sudah cukup sabar untuk menghilangkan kata tersebut untuk muncul kembali. Tetap saja kata tersebut keluar disaat tidak tepat sama sekali. Ah, sudahlah. Gue juga suadah menemukan tempat lainnya. Sampai ketemu kembali di tempat baru gue.
Ini alamatnya:

kojiojiojifojifewojirfewoi34jr8934rjufjvffds;d;lasfjiewthjirejreiojewokrewqijiojc n ewfiewriu4rh347y784htefdoidsghisdhfiodjsgfi rsrhew dfgkdfpgpodth89todfsji e reithreitjfvod ueht9urhetodpsf89-y4-2r-4ujeg  iegfoppoag[=0qo[va qiet0=0t934it f  i-ir34 foie retjirejt0 uret3-0t f=e0saif34 j0utj345rpoldfjgodgfju034 tdfgp[asfew9rf asodgp['dksgrig90rejg rgokdfgniodfgoyntrg[f0k42rjukfdfgjriejgfrekpgfdfkjb[dh;f]p24ir90dQDO1 J

Minggu, 13 Oktober 2013

Munculnya Teman Baru Diantara Teman Lama

Tulisan ini udah lama banget gue buat. Mungkin ini cerita romance pertama gue. Tunggu dulu. Ini belum membentuk sebuah cerita, hanya garis besaranya aja akan diperluas lagi untuk bisa masuk ke dalam kategori cerita.

Untuk masalah judul cerita gue masih belum tau apa judul yang pas untuk cerita ini. Mungkin, ini aja kali ya judul mentahnya “Munculnya Teman Baru Diantara Teman Lama”.
Nah, ini dia garis besar yang udah lama gue buat dan sampai sekarang belum jadi sebuah cerita fiksi. Selamat membaca.

Minggu, 06 Oktober 2013

Nabil Pribadi

Langsung aja. Memperkenalkan seorang teman baru yang selalu setia menemani gue selama ini. Biasanya dia muncul di blog ini dengan tulisan berwarna merah. Hobinya itu suka nanya-nanya kalau gue lagi nulis. Langsung aja deh gue kenalin. Namanya Nabil Pribadi.

“Pagi Nabil,” basa-basi gue buat mancing suara Nabil.
“Pagi. Hallo Semuanya.” Sapa Nabil.

Gak berapa lama kemudian gue langsung nanya “Pagi ini kita mau ngapain?”

“Ngapain ya?” jawab Nabil bingung.
"Memperkenalkan diri dulu dong ke para pembaca."

Nabil mulai memperkanalkan dirinya. “Oke. Nama saya Nabil Pribadi. Saya satu kosan dengan Roe. Apalagi ya.”

“Tujuan lo datang kemari ngapain?”
“Tujuan? Apa ya. Ya saya mah, cuma mau ngebantuin Roe doang buat ngasih-ngasih ide.”
“Terus, sekarang lo punya ide apaan nih sampe-sampe gue harus ngenalin diri lo ke para pembaca.”
“Ide ya. Saya punya…”

Gue langsung potong pembicaran Nabil “Tunggu, jangan pake saya dong ngomongnya. Terlalu formal. Memangnya kita baru kenal?”

“Baiklah. Gue punya ide untuk blog ini. Idenya sih mungkin simple aja. Jadi tuh, kita bedua…”
“Iya.”
“Kita bedua kayak penyiar radio. Ngobrol…”
“Cuma ngobrol doang?”
“Gue kan belum selesai bicara. Gak cuma ngrobrol doang. Jadi tuh, ngobrolnya ada tema yang akan kita bahas. Misalnya kita ngebahas tentang kuliah. Yaudah, ngobrolnya ya seputar tentang perkuliahan pastinya.”
“Berarti seputaran kehidupan sehari-hari la-ya.”
“Bisa dibilang seperti itulah. Karena kita suka nonton film bisa juga nge-review film. Tentunya film yang menurut kita layak.”
“Emang yang gak layak untuk di-review kayak gimana?”
“Sama-sama tau ajalah.”
“HAHAHA… kapan rencana kita mulainya?”
“Pastinya secepatnya. Tergantung ide dan tingkat kemalasan juga.”
“HAHAHA…”
“Wah, Roe udah mulai ketawa-ketawa gak jelas nih. Udah, udah… kita akhiri aja perbincangan ini.”
“Wah, seharusnya gue dong yang nutupnya.”
“Oke. Silakan bung Roe.”
“Oke anak jongkok.”
“Kok anak jongkok Roe?”
“Ya memang pembaca kita kebanyakan anak jongkok.”
“Maksudnya?”
“Anak jongkok. Yang suka baca blog ini dalam kamar mandi sambil boker gaya jongkok.”
“Tuh, udah mulai ngaco dia. Cut, cut, cut…”
“Oke. Sampai ketemu lagi di sesi ‘Tanya Jawab? Heran’. Bersama gue, Heru Wibisono dan teman gue…”
“Nabil Pribadi.”
“Jangan heran kalo lo memang gak tau.”
“Apalagilah ini anak.”
Tag-line-nya masno.”
“Oo.. Bolelah.”

Bandung, 25 Februari 2012.

Sabtu, 08 Juni 2013

Dibalik Penulisan Mahasiswa Rantangan

Hari demi hari belum ada perubahan sama sekali. Masih belum mendapatkan ide dan semakin hari semakin pusing saja ini penduniaan mahasiswa. Kurang pas rasanya kalo sudah jadi mahasiswa tidak mendegarkan lagunya The Panas Dalam. Liar abis men liriknya.

“Eh, Roe lagi ngapain lo?”
“Kapan lo datanganya Bil?”
“Barusan aja. Pas lo keluar ke kamar mandi gue udah datang. Terus gue kebawah bentar beli jajanan. Pintu kamar kenapa enggak lo kunci?”
“Oo.. gue tadi cuci tangan bukan ke kamar mandi Bil. Baru selesai makan ini.”
“Terus lo lagi ngerjain apaan?”
“Enggak ada, gue lagi baca cerita Bil. Soalnya gue lagi ditantang untuk membuat cerita yang enggak kalah dengan drama Korea.”
“Jiah, bukannya gampang itu. Lo kan suka nonton drama Korea sama dorama Jepang. Setidaknya lo udah adalah sedikit referensinya.”
“Iya sih. Namanya tantangan enggak ada yang gampang Bil. Harus ada sisi emosional di dalam ceritanya itu. Nah, sedangkan gue harus bercerita minimal itu seribu kata.”
“Cerita pendek dong.”
“Bisa dibilang begitu sih.”
“Gue ada ide nih. Gimana kalo lo buat ceritanya itu ada chapternya. Nah, biar terlihat lebih seru.”
“Hahaha. Benar juga lo ya Bil. Kita banyak banget ide ya, tapi selama ini enggak ada yang dijalanin dengan benar. Selalu salahin aturan yang berlaku.”
“Itu karena lo enggak konsisten. Makanya jangan mengerjakan suatu perkerjaan itu dengan setengah-setengah. Jadi, lo dipujinya juga setengah-setengah nantinya.”
“Abis darimana lo Bil, bisa ngomong sebegitu rupa?
“Mana wehlah. Dapat di jalan itu  juga kata-katanya. Udah, jadi mau nulis cerita enggak lo?”
“Jadi. Mari kita lakukan bersama Bil.”
“Siap.”
“Karakter utama namanya Budi.”
“Lha kok Budi.”
“Biar cepat aja Bil. Lagian itu nama Indonesia banget kan. Masa sih kita mau contek mentah-mentah Negara orang lain?”
“Bener juga lo Roe.”
“Budi adalah seorang anak rantau yang sedang menuntut ilmu di daerah Bandung.”
“Rantauan mana dia?”
“Medan.”
“Jiah, Medan kenapa namanya Budi. Ucoklah.”
“Ya dia di Medan juga merantau gara-gara orang tuanya.”
“Oo..”
“Awalannya gimana ya Bil buat cerita. Bingung gue. Belum ada inspirasi. “
“Udah nulis aja dulu apa aja yang di dalam pikiran lo. Entar gue ikut mikir lagi buat ngerombak agar lebih padat merayap lagi.”


Kemudian pembembicaraan berhentilah sampai disini tanpa ada sambungan apapun.

Rabu, 05 Juni 2013

Mahasiswa Pengantar Rantang




Inilah kehidupan bukan di ibu kota, tetapi tetangganya ibu kota. Yap, Bandung adalah kota kreatif. Itu sih kata orang yang sudah lama tinggal disini. Kenapa harus Bandung tempat persinggahan? Uops… bukan singgahan, melainkan menuntun ilmu disini.

Sayangnya ilmu gue pas-passan sekali. Mau masuk ke universitas negri aja gue enggak mampu. Apalagi masuk kedalam sebuah institut ternama. 

Hahaha…

Lucu memang kalo diingat masa SMA itu. Banyak rencana yang dilakukan setelah lulus. Eh, malah perubahan rencana itu harus dilakukan diwaktu yang tidak diinginkan. 


Senin, 03 Juni 2013

Karakter Budi dan Tantri

Namanya Budi. Mahasiswa pengantar rantang. Hidupnya lempeng kayak otaknya yang selalu tidak terbebani walau ia sebentar lagi akan punah dari kampusnnya.

Namanya Tantri. Mahasiswi baru melek. Anaknya simpel dan ceria. Gemar latihan taekwondo. Sayangnya ia punya hobi seperti anak ABG masa kini. Selalu update status berbau galau-galau gimana gitu di Facebook dan aktif dalam dunia twitter yang kebanyakan isinya 'Folbek ya Kakak.'

Ada apa dengan mereka berdua? Dua karakter sangat berlawanan arah bisa sampai dipertemukan. Kita tunggu petualangan apa saja yang mereka bedua temukan. Akankah kedua maha a dan i ini dapat mempersatukan rantang dan ilmu bela diri? Bisakah mereka makan sepering berdua?

“Kalimat yang terakhirnya itu enggak nyambung banget Roe.”
"Udah biarin aja."
*Cerita ini hanya fiksi belaka. Kalo ada kesamaan dalam pertokohan penulis minta maaf. Karena ya namanya juga cerita kadang bisa sama kadang juga si penulis enggak sanggup lagi nulis kelanjutannya dan membuat pembaca semakin penasaran. Satu lagi pesan penulis. Selalu doakan penulis untuk tetap eksis menulis cerita ini sampai selesai.

Kamis, 07 Februari 2013

Desanya Ratna

Huwaaa… sudah bulan Febuari 2013 saja sekarang. Waktu, waktu mengapa engkau begitu cepat berjalan. Menurut perkiraan gue ternyata benar. Gue akan menjadi anak terakhir yang lulus kuliah. Hampir 93% angkatan gue atau biasa dikenal dengan BLACKBOXNESIA sudah pada lulus dan mempunyai kerja yang terbilang layak. Apalagi ada beberapa diantara yang sudah terbilang sukses. Gue sih merasa senang melihat teman-teman gue mendapatkan apa yang mereka inginkan. 

Seperti rencana awal. Gue kalau sudah lulus akan pergi ke suatu daerah yang bernama Pangalengan. Masih di Jawa Barat juga tempatnya.

Rabu, 16 Mei 2012

Nicole



Suasana saat itu aku berada dalam sebuah ruangan. Tidak terlalu besar. Tidak terlalu sempit, tapi banyak sekali orang di dalam ruangan. Setelah membuka mata akhirnya aku sadar, ternyata aku sedang berada di sebuah ruangan kelas. Dimana di dalamnya sedang ada Ujian Akhir Semester (UAS).

Aku masih bengong selama tiga setengah menit. Ternyata ujian sudah berlangsung satu jam yang lalu. Kertas yang ada di atas meja bersambung dengan kursi masih kosong. Hanya ada sedikit tulisan tangan yang berisi nama, nim, mata kuliah dan tanggal sekarang. Sebenarnya ujian apa ini? Kenapa harus mendadak begini ujiannya. Aku bingung sebingungnya. Lihat kiri-kanan, teman asyik sekali menulis di lembar kertas ujian.

Aku tidak mengerti apakah mereka tau semua jawabannya atau hanya menunduk saja sambil memegang sebuah pulpen di tangannya. Tiba-tiba pengawas mengatakan "Waktunya tinggal lima menit lagi. Jangan lupa periksa kembali nama, nim dan kode soal."

Aku sama sekali tidak mendapatkan soalnya. Aneh yang aku rasakan. "Yaa, waktunya habis." Kata pengawas ujiannya. Mati dah, ngumpulin lembar jawaban isinya hanya nama, nim dan masih banyak lagi yang harus aku sebutin.

"Jangan pada pulang. Sepuluh menit lagi akan keluar hasilnya." Kata petugas ujian sambil merapikan lembar jawaban mahasiswa. Mahasiswa yang berada di dalam ruangan sama sekali tidak berontak. Hanya duduk diam dan ngobrol ringan dengan teman disebelahnya. Sedangkan aku masih tetap bingung di bangku bagian paling belakang.

Rabu, 25 April 2012

Dinda



Setelah melewati jalan yang terbilang panjang. Gue harus berjalan keluar bandara sendiri tanpa teman. Musiklah yang menjadi teman gue saat itu.

Lima belas menit kemudian…
Akhirnya keluar dari bandara. Selanjutnya gue harus bertanya-tanya angkot mana bisa membawa gue sampai kosan. Ternyata gak ada. Gue harus naik angkot dua kali dari depan bandara. Pertama gue naik angkot lupa lagi tujuan mana itu. Ntar gue turun di IP (Istana Plaza). Terus gue naik angkot Caheum – Ciroyom. Dengan caatatan gue harus berjalan lagi untuk bisa berjumpa angkot Ciroyom. Ini kenapa ngomongin angkot woi~